Sabtu, 17 Desember 2011

KISAH NABI ISMAIL As

Sampai Nabi Ibrahim yang
berhijrah meninggalkan Mesir
bersama Sarah, isterinya dan
Hajar, dayangnya di tempat
tujuannya di Palestin. Ia telah
membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta
miliknya yang telah diperolehinya
sebagai hasil usaha niaganya di
Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan
daripada Ibnu Abbas r.a.berkata: Pertama-tama yang
menggunakan setagi (setagen)
ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan
untuk menyembunyikan
kandungannya dari Siti Sarah
yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi
belum juga hamil. tetapi
walaubagaimana pun juga
akhirnya terbukalah rahsia yang
disembunyikan itu dengan
lahirnya Nabi Ismail a.s. Dan sebagai lazimnya seorang isteri
sebagai Siti Sarah merasa telah
dikalahkan oleh Siti Hajar sebagai
seorang dayangnya yang
diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s.
Dan sejak itulah Siti Sarah merasakan bahawa Nabi Ibrahim
a.s. lebih banyak mendekati Hajar
karena merasa sgt gembira
dengan puteranya yang tunggal
dan pertama itu, hal ini yang
menyebabkan permulaan ada keratakan dalam rumahtangga
Nabi Ibrahim a.s. sehingga Siti
Sarah merasa tidak tahan hati
jika melihat Siti Hajar dan minta
pada Nabi Ibrahim a.s. supaya
menjauhkannya dari matanya dan menempatkannya di lain
tempat. Untuk suatu hikmah yang belum
diketahui dan disadari oleh Nabi
Ibrahim Allah s.w.t. mewahyukan
kepadanya agar keinginan dan
permintaan Sarah isterinya
dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya dan Sarah
ke suatu tempat di mana yang ia
akan tuju dan di mana Ismail
puteranya bersama ibunya akan
di tempatkan dan kepada siapa
akan ditinggalkan. Maka dengan tawakkal kepada
Allah berangkatlah Nabi Ibrahim
meninggalkan rumah membawa
Hajar dan Ismail yang
diboncengkan di atas untanya
tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri
kepada Allah yang akan memberi
arah kepada binatang
tunggangannya. Dan berjalanlah
unta Nabi Ibrahim dengan tiga
hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk
ke lautan pasir dan padang
terbuka di mana terik matahari
dengan pedihnya menyengat
tubuh dan angin yang kencang
menghembur-hamburkan debu- debu pasir. Ismail dan Ibunya Hajar
Ditingalkan di Makkah Setelah berminggu-minggu
berada dalam perjalanan jauh
yang memenatkan tibalah pada
akhirnya Nabi Ibrahim bersama
Ismail dan ibunya di Makkah kota
suci dimana Kaabah didirikan dan menjadi pujaan manusia dari
seluruh dunia. di tempat di mana
Masjidil Haram sekarang berada,
berhentilah unta Nabi Ibrahim
mengakhiri perjalanannya dan
disitulah ia meninggalkan Hajar bersama puteranya dengan
hanya dibekali dengan serantang
bekal makanan dan minuman
sedangkan keadaan sekitarnya
tiada tumbuh-tumbuhan, tiada
air mengalir, yang terlihat hanyalah batu dan pasir kering .
Alangkah sedih dan cemasnya
Hajar ketika akan ditinggalkan
oleh Ibrahim seorang diri
bersama dengan anaknya yang
masih kecil di tempat yang sunyi senyap dari segala-galanya
kecuali batu gunung dan pasir. Ia
seraya merintih dan menangis,
memegang kuat-kuat baju Nabi
Ibrahim memohon belas kasihnya,
janganlah ia ditinggalkan seorang diri di tempat yang kosong itu,
tiada seorang manusia, tiada
seekor binatang, tiada pohon
dan tidak terlihat pula air
mengalir, sedangkan ia masih
menanggung beban mengasuh anak yang kecil yang masih
menyusu. Nabi Ibrahim mendengar
keluh kesah Hajar merasa tidak
tergamak meninggalkannya
seorang diri di tempat itu
bersama puteranya yang sangat disayangi akan tetapi ia sedar
bahwa apa yang dilakukan nya
itu adalah kehendak Allah s.w.t.
yang tentu mengandungi hikmat
yang masih terselubung baginya
dan ia sedar pula bahawa Allah akan melindungi Ismail dan ibunya
dalam tempat pengasingan itu
dan segala kesukaran dan
penderitaan. Ia berkata kepada
Hajar : "Bertawakkallah kepada Allah
yang telah menentukan
kehendak-Nya, percayalah
kepada kekuasaan-Nya dan
rahmat-Nya. Dialah yang
memerintah aku membawa kamu ke sini dan Dialah yang akan
melindungi mu dan menyertaimu
di tempat yang sunyi ini.
Sesungguh kalau bukan perintah
dan wahyunya, tidak sesekali
aku tergamak meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama
puteraku yang sangat ku cintai
ini. Percayalah wahai Hajar
bahwa Allah Yang Maha Kuasa
tidak akan melantarkan kamu
berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan
tetap turun di atas kamu untuk
selamanya, insya-Allah." Mendengar kata-kata Ibrahim itu
segeralah Hajar melepaskan
genggamannya pada baju Ibrahim
dan dilepaskannyalah beliau
menunggang untanya kembali ke
Palestin dengan iringan air mata yang bercurahan membasahi
tubuh Ismail yang sedang
menetak. Sedang Nabi Ibrahim
pun tidak dapat menahan air
matanya keetika ia turun dari
dataran tinggi meninggalkan Makkah menuju kembali ke
Palestin di mana isterinya Sarah
dengan puteranya yang kedua
Ishak sedang menanti. Ia tidak
henti-henti selama dalam
perjalanan kembali memohon kepada Allah perlindungan,
rahmat dan barakah serta
kurniaan rezeki bagi putera dan
ibunya yang ditinggalkan di
tempat terasing itu. Ia berkata
dalam doanya:" Wahai Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku
dan anak-anak keturunannya di
dekat rumah-Mu { Baitullahil
Haram } di lembah yang sunyi
dari tanaman dan manusia agar
mrk mendirikan solat dan beribadat kepada-Mu. Jadikanlah
hati sebahagian manusia
cenderung kepada mrk dan
berilah mrk rezeki dari buah-
buahan yang lazat, mudah-
mudahan mrk bersyukur kepada- Mu." Mata Air Zamzam Sepeninggal Nabi Ibrahim
tinggallah Hajar dan puteranya di
tempat yang terpencil dan sunyi
itu. Ia harus menerima nasib yang
telah ditakdirkan oleh Allah atas
dirinya dengan kesabaran dan keyakinan penuh akan
perlindungan-Nya. Bekalan
makanan dan minuman yang
dibawanya dalam perjalanan
pada akhirnya habis dimakan
selama beberapa hari sepeninggalan Nabi Ibrahim. Maka
mulailah terasa oleh Hajar
beratnya beban hidup yang
harus ditanggungnya sendiri
tanpa bantuan suaminya. Ia
masih harus meneteki anaknya, namun air teteknya makin lama
makin mengering disebabkan
kekurangan makan .Anak yang
tidak dapat minuman yang
memuaskan dari tetek ibunya
mulai menjadi cerewet dan tidak henti-hentinya menangis. Ibunya
menjadi panik, bingung dan
cemas mendengar tangisan
anaknya yang sgt menyayat hati
itu. Ia menoleh ke kanan dan ke
kiri serta lari ke sana ke sini mencari sesuap makanan atau
seteguk air yang dpt
meringankan kelaparannya dan
meredakan tangisan anaknya,
namun sia-sialah usahanya. Ia
pergi berlari harwalah menuju bukit Shafa kalau-kalau ia boleh
mendapatkan sesuatu yang
dapat menolongnya tetapi hanya
batu dan pasir yang didapatnya
disitu, kemudian dari bukit Shafa
ia melihat bayangan air yang mengalir di atas bukit Marwah
dan larilah ia berharwahlah ke
tempat itu namun ternyata
bahawa yang disangkanya air
adalha fatamorangana
{bayangan} belaka dan kembalilah ke bukit Shafa karena
mendengar seakan-akan ada
suara yang memanggilnya tetapi
gagal dan melesetlah dugaannya.
Demikianlah maka karena
dorongan hajat hidupnya dan hidup anaknya yang sangat
disayangi, Hajar mundar-mundir
berlari sampai tujuh kali antara
bukit Shafa dan Marwah yang
pada akhirnya ia duduk
termenung merasa penat dan hampir berputus asa. Diriwayatkan bahawa selagi Hajar
berada dalam keadaan tidak
berdaya dan hampir berputus
asa kecuali dari rahmat Allah dan
pertolongan-Nya datanglah
kepadanya malaikat Jibril bertanya:" Siapakah sebenarnya
engkau ini?" " Aku adalah hamba
sahaya Ibrahim". Jawab Hajar."
Kepada siapa engkau dititipkan di
sini?"tanya Jibril." Hanya kepad
Allah",jawab Hajar.Lalu berkata Jibril:" Jika demikian, maka
engkau telah dititipkan kepada
Dzat Yang Maha Pemurah Lagi
Maha Pengasih, yang akan
melindungimu, mencukupi
keperluan hidupmu dan tidak akan mensia-siakan kepercayaan
ayah puteramu kepada-Nya." Kemudian diajaklah Hajar
mengikuti-nya pergi ke suatu
tempat di mana Jibril
menginjakkan telapak kakinya
kuat-kuat di atas tanah dan
segeralah memancur dari bekas telapak kaki itu air yang jernih
dengan kuasa Allah .Itulah dia
mata air Zamzam yang sehingga
kini dianggap keramat oleh
jemaah haji, berdesakan
sekelilingnya bagi mendapatkan setitik atau seteguk air
daripadanya dan kerana
sejarahnya mata air itu disebut
orang " Injakan Jibril ".
Alngkah gembiranya dan lega
dada Hajar melihat air yang mancur itu. Segera ia membasahi
bibir puteranya dengan air
keramat itu dan segera pula
terlihat wajah puteranya segar
kembali, demikian pula wajah si
ibu yang merasa sgt bahagia dengan datangnya mukjizat dari
sisi Tuhan yang mengembalikan
kesegaran hidup kepadanya dan
kepada puteranya sesudah
dibayang-bayangi oleh bayangan
mati kelaparan yang mencekam dada. Mancurnya air Zamzam telah
menarik burung-burung
berterbangan mengelilingi daerah
itu menarik pula perhatian
sekelompok bangsa Arab dari
suku Jurhum yang merantau dan sedang berkhemah di sekitar
Makkah. Mereka mengetahui dari
pengalaman bahwa di mana ada
terlihat burung di udara,
nescaya dibawanya terdapat air,
maka diutuslah oleh mrk beberapa orang untuk
memeriksa kebenaran teori ini.
Para pemeriksa itu pergi
mengunjungi daerah di mana
Hajar berada, kemudian kembali
membawa berita gembira kepada kaumnya tentang mata air
Zamzam dan keadaan Hajar
bersama puteranya. Segera
sekelompok suku Jurhum itu
memindahkan perkhemahannya
ke tempat sekitar Zamzam ,dimana kedatangan mrk
disambut dengan gembira oleh
Hajar karena adanya sekelompok
suku Jurhum di sekitarnya, ia
memperolehi jiran-jiran yang
akan menghilangkan kesunyian dan kesepian yang selama ini
dirasakan di dalam hidupnya
berduaan dengan puteranya
saja. Hajar bersyukur kepada Allah
yang dengan rahmatnya telah
membuka hati orang-orang itu
cenderung datang meramaikan
dan memecahkan kesunyian
lembah di mana ia ditinggalkan sendirian oleh Ibrahim. Nabi Ismail Sebagai Qurban Nabi Ibrahim dari masa ke semasa
pergi ke Makkah untuk
mengunjungi dan menjenguk
Ismail di tempat pengasingannya
bagi menghilangkan rasa rindu
hatinya kepada puteranya yang ia sayangi serta menenangkan
hatinya yang selalu rungsing bila
mengenangkan keadaan
puteranya bersama ibunya yang
ditinggalkan di tempat yang
tandus, jauh dari masyarakat kota dan pengaulan umum.
Sewaktu Nabi Ismail mencapai
usia remajanya Nabi Ibrahim a.s.
mendapat mimpi bahwa ia harus
menyembelih Ismail puteranya.
Dan mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara
turunnya wahyu Allah , maka
perintah yang diterimanya dalam
mimpi itu harus dilaksanakan oleh
Nabi Ibrahim. Ia duduk sejurus
termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi.
Sebagai seorang ayah yang
dikurniai seorang putera yang
sejak puluhan tahun diharap-
harapkan dan
didambakan ,seorang putera yang telah mencapai usia di mana
jasa-jasanya sudah dapat
dimanfaatkan oleh si ayah ,
seorang putera yang diharapkan
menjadi pewarisnya dan
penyampung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus
dijadikan qurban dan harus
direnggut nyawa oelh tangan si
ayah sendiri. Namun ia sebagai seorang Nabi,
pesuruh Allah dan pembawa
agama yang seharusnya menjadi
contoh dan teladan bagi para
pengikutnya dalam bertaat
kepada Allah ,menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan
cintanya kepada Allah di atas
cintanya kepada anak, isteri,
harta benda dan lain-lain. Ia
harus melaksanakan perintah
Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apa pun yang akan
terjadi sebagai akibat
pelaksanaan perintah itu.
Sungguh amat berat ujian yang
dihadapi oleh Nabi Ibrahim, namun
sesuai dengan firman Allah yang bermaksud:" Allah lebih
mengetahui di mana dan kepada
siapa Dia mengamanatkan
risalahnya." Nabi Ibrahim tidak
membuang masa lagi, berazam
{niat} tetap akan menyembelih Nabi Ismail puteranya sebagai
qurban sesuai dengan perintah
Allah yang telah diterimanya.Dan
berangkatlah serta merta Nabi
Ibrahim menuju ke Makkah untuk
menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang
Allah perintahkan. Nabi Ismail sebagai anak yang
soleh yang sgt taat kepada Allah
dan bakti kepada orang tuanya,
ketika diberitahu oleh ayahnya
maksud kedatangannya kali ini
tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang berkata kepada
ayahnya:" Wahai ayahku!
Laksanakanlah apa yang telah
diperintahkan oleh Allah
kepadamu. Engkau akan
menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh
kepada perintah. Aku hanya
meminta dalam melaksanakan
perintah Allah itu , agar ayah
mengikatku kuat-kuat supaya
aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah,
kedua agar menanggalkan
pakaianku supaya tidak terkena
darah yang akan menyebabkan
berkurangnya pahalaku dan
terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu
dan percepatkanlah
perlaksanaan penyembelihan
agar menringankan penderitaan
dan rasa pedihku, keempat dan
yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah
kepadanya pakaian ku ini untuk
menjadi penghiburnya dalam
kesedihan dan tanda mata serta
kenang-kenangan baginya dari
putera tunggalnya."Kemudian dipeluknyalah Ismail dan dicium
pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya
berkata:" Bahagialah aku
mempunyai seorang putera yang
taat kepada Allah, bakti kepada
orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk
melaksanakan perintah Allah." Saat penyembelihan yang
mengerikan telah tiba. Diikatlah
kedua tangan dan kaki Ismail,
dibaringkanlah ia di atas lantai,
lalu diambillah parang tajam yang
sudah tersedia dan sambil memegang parang di tangannya,
kedua mata nabi Ibrahim yang
tergenang air berpindah
memandang dari wajah
puteranya ke parang yang
mengilap di tangannya, seakan- akan pada masa itu hati beliau
menjadi tempat pertarungan
antara perasaan seorang ayah
di satu pihak dan kewajiban
seorang rasul di satu pihak yang
lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang
diletakkan pada leher Nabi Ismail
dan penyembelihan di lakukan .
Akan tetapi apa daya, parang
yang sudah demikian tajamnya
itu ternyata menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan tidak
dapat berfungsi sebagaimana
mestinya dan sebagaimana
diharapkan. Kejadian tersebut merupakan
suatu mukjizat dari Allah yang
menegaskan bahwa perintah
pergorbanan Ismail itu hanya
suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan
Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada
Allah. Ternyata keduanya telah
lulus dalam ujian yang sangat
berat itu. Nabi Ibrahim telah
menunjukkan kesetiaan yang
tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti
melaksanakan perintah Allah
sedangkan Nabi Ismail tidak
sedikit pun ragu atau bimbang
dalam memperagakan
kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan
menyerahkan jiwa raganya
untuk dikorbankan, sampai-
sampai terjadi seketika merasa
bahwa parang itu tidak lut
memotong lehernya, berkatalah ia kepada ayahnya:" Wahai
ayahku! Rupa-rupanya engkau
tidak sampai hati memotong
leherku karena melihat wajahku,
cubalah telangkupkan aku dan
laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku."Akan tetapi
parang itu tetap tidak berdaya
mengeluarkan setitik darah pun
dari daging Ismail walau ia telah
ditelangkupkan dan dicuba
memotong lehernya dari belakang. Dalam keadaan bingung dan sedih
hati, karena gagal dalam
usahanya menyembelih
puteranya, datanglah kepada
Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan
firmannya:" Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan
mimpimu, demikianlah Kami akan
membalas orang-orang yang
berbuat kebajikkan ."Kemudian
sebagai tebusan ganti nyawa
Ismail telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim
menyembelih seekor kambing
yang telah tersedia di
sampingnya dan segera dipotong
leher kambing itu oleh beliau
dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Dan
inilah asal permulaan sunnah
berqurban yang dilakukan oleh
umat Islam pada tiap hari raya
Idul Adha di seluruh pelosok
dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar